“Dinda Paramitha”, nama ponakan kecilku yang luctu banget, kulitnya putih bersih, senyumnya manis, dia punya sesuatu yang berbeda , semakin lama di pandang semakin gemes ngeliatnya. 13 april 2008 lalu umurnya baru genap 2 taon.
Setelah hari pernikahan my big bro, si dek inda (sebutan sayang buat si kecil) mulai sakit-sakitan. Udah bolak-balik ke dokter anak tapi tetep ajah gak mau maem, gak seceria biasanya lagi. Yang kedengeran hanya isak tangis kesakitannya, entah bagian mananya yang sakit, kalau di gendong si kecil slalu meringis kesakitan,
“sakit mama…!”
“yang mana sakit adek?”
“perutnya akit mama…!” (ini sakit, itu sakit), semua pada bingung…akhirnya ngambil keputusan di bawa ke rumah sakit karna seharian gak berenti nangis kesakitan. dan si kecil harus menjalani rawat nginap di rumah sakit sanglah. Seharian cek darah, tranfusi darah karna dokternya bilang si kecil kekurangan darah dan hasil tesnya akan keluar sehari setelah pengambilan darah.
Keesokan harinya…air mata tumpah ruah di ruangan Mahotama-Sanjiwani. Berdasarkan hasil tes lab. si kecil divonis positif leukimia. Saat itu aku sedang tidak berada di sana, aku ditelpon oleh salah seorang tanteku…aku hanya terpaku…diam…membisu sejenak…gak tau mesti ngomong apa. Miris banget hati…aku, my big bro dan mbakku hanya diam terpaku…kangen banget ama suara si kecil.
Kemaren kita nemenin si kecil pengambilan sum-sum tulang belakangnya ama tim dokter yang menangani,…duuuhhhhhhhhh mirisssssssssss banget hatiku…dengerin si kecil meringis kesakitan…ya TUHAN si kecil baru berumur 2 tahun…sekarang nih si kecil hanya terbaring di tempat tidur dengan infus menggantung di tangannya, wajah pucat, mata bengkak, badannya semakin kecil.
Dimana dek inda yang dulu, yang ceriwis tiap aku pulang kantor
“tante de…tante de…men..’permen’…” memang hobinya makan permen, gak usah di kasi apa2 kalau mau gendong si kecil kasi ajah permen pasti dia tersenyum manis, boleh di gendong dan boleh di cium.
“tante de elek ayak onyet…adek cantik…!”
Belum juga kering air mata kita dua bulan yang lalu…sekarang harus di hadapin kenyataan seperti ini…semua itu memang sudah garis tangan si kecil membawa sakit yang di deritanya. Kita semua hanya bisa berdoa memohon di berikan mujizat oleh Yang Di Atas. Sekecil apapun harapannya pasti akan ada jalan yang bisa di lalui…apapun itu pastilah yang terbaik untuk si kecil kita.